Pengertian Anemia

Posted on

Pengertian Anemia : Jenis dan Klasifikasi Ulasan Lengkap : Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).

Pengertian Anemia


Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count). Tetapi yang paling lazim dipakai adalah kadar hemoglobin, kemudian hematokrit.


Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Anemia bentuk ini merupakan bentuk anemia yang sering ditemukan di dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Diperkirakan sekitar 30 % penduduk dunia menderita anemia, dan lebih dari setengahnya merupakan anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi lebih sering ditemukan di negara yang sedang berkembang sehubungan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, masukan protein hewani yang rendah, dan investasi parasit yang merupakan masalah endemik. Saat ini di Indonesia anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah gizi utama disamping kurang kalori protein, vitamin A dan Yodium.


Anemia defisiensi besi merupakan penyakit darah yang paling sering pada bayi dan anak, serta wanita hamil (1-4,9,10) Secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa, defisiensi besi dapat terjadi bila jumlah yang diserap untuk memenuhi kebutuhan tubuh terlalu sedikit, ketidakcukupan besi ini dapat diakibatkan oleh kurangnya pemasukan zat besi, berkurangnya zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi. Bila hal tersebut berlangsung lama maka defisiensi zat besi akan menimbulkan anemia.


Selain dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin yang berperan dalam penyimpanan dan penangkutan oksigen, zat besi juga terdapat dalam beberapa enzim yang berperan dalam metabolisme oksidatif, sintesis DNA, neurotransmitter dan proses katabolisme yang dalam bekerjanya membutuhkan ion besi. Dengan demikian, kekurangan besi mempunyai dampak yang merugikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, menurunkan daya tahan tubuh, menurunkan konsentrasi belajar dan mengurangi aktivitas kerja serta meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas bagi janin dan ibu.


Anemia defisiensi besi hampir selalu terjadi sekunder terhadap penyakit yang mendasarinya, sehingga koreksi terhadap penyakit dasarnya menjadi bagian penting dari pengobatan.


Prinsip pengobatan anemia defisiensi besi adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar 80-85 % penyebab anemia defisiensi besi dapat diketahui sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan tepat.


Anemia megaloblastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megaloblasti. Sel-sel yang pertama dipengaruhi adalah yang secara relatif mempunyai sifat perubahan yang cepat, terutama sel-sel awal hematopoietik dan epitel gastrointestinal. Pembelahan sel terjadi lambat. tetapi perkembangan sitoplasmik normal, sehingga sel-sel megaloblastik cenderung menjadi besar dengan peningkatan rasio dari RNA terhadap DNA. Sel-sel awal pendahulu eritroid megaloblastik cenderung dihancurkan dalam sumsum tulang. Dengan demikian selularitas sumsum tulang sering meningkat tetapi produksi sel darah merah berkurang, dan keadaan abnormal ini disebut dengan istilah eritropoiesis yang tidak efektif (ineffective erythropoiesis). Kebanyakan anemia megaloblastik disebabkan karena defisiensi vitamin B12 (kobalamin) dan atau asam folat


Pengertian Anemia

Anemia adalah kadar hemoglobin di bawah normal, patokan WHO (1972) untuk anak sampai umur 6 tahun kadar Hb di bawah 11.0 g/dl dan untuk anak umur di atas 6 tahun kadar Hb di bawah 12 g/dl dianggap menderita anemia.


Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang.


Jenis-Jenis Anemia

  • Anemia Sel Sabit

Orang dengan anemia sel sabit biasanya memiliki gen yang dapat menyebabkan hemoglobin protein darah terbentuk secara tidak normal. Kondisi ini membuat sel darah merah yang diproduksi berbentuk sabit (tidak normal), sehingga tidak bisa membawa oksigen secara sempurna dan mudah pecah.


Jangan anggap remeh anemia jenis ini, sebab bisa berujung pada penyakit strok, serangan jantung, pembengkakan di tangan dan kaki, hingga menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Dalam kebanyakan kasus, anemia sel sabit ini sering terjadi pada keturunan Afrika-Amerika serta Hispanik, India, dan Mediterania.


  • Thalasemia

Thalasemia terjadi karena faktor genetik. Di dalam tubuh pengidap thalasemia, tidak dapat menghasilkan hemoglobin yang cukup dan berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Bagaimana dengan gejalanya?


Pengidapnya biasanya akan mengalami gejala, seperti kelelahan, pembesaran limfa yang meluas, pertumbuhan tulang yang tidak semestinya, dan penyakit kuning.


  • Anemia Pernisiosa Kongenital

Jenis anemia ini terbilang langka. Anemia pernisiosa kongenital ini terjadi ketika seseorang dilahirkan dengan ketidakmampuan untuk menghasilkan faktor intrinsik protein di lambung, yang membantu tubuh menyerap vitamin B12. Nah, tanpa vitamin B12 ini, tubuh tidak dapat membuat sel darah merah yang sehat, sehingga terjadilah anemia.


Tak hanya itu saja, kekurangan vitamin B12 juga dapat menimbulkan masalah lain. Misalnya, kerusakan saraf, kehilangan ingatan, dan pembesaran hati. Jenis anemia ini biasanya diobati dengan suplemen vitamin B12 yang kemungkinan besar dikonsumsi seumur hidup.


  • Anemia Fanconi

Jenis anemia ini akan mencegah sumsum tulang menghasilkan cukup pasokan sel darah baru bagi tubuh. Selain memiliki tanda-tanda klasik anemia, seperti kelelahan dan pusing, beberapa pengidap anemia fanconi juga berisiko lebih besar untuk mengalami infeksi. Kok bisa? Alasannya tubuh mereka tidak menghasilkan sel darah putih yang cukup untuk melawan kuman.


  • Sferositosis Herediter

Penyakit ini biasanya diturunkan dari orangtua ke anaknya. Sferositosis herediter ditandai oleh sel darah merah yang abnormal yang disebut sferosit yang tipis dan rapuh. Sel-sel ini tidak dapat berubah bentuk untuk melewati organ-organ tertentu, seperti yang dilakukan sel-sel darah merah normal. Akibatnya, sel-sel itu tinggal di limpa lebih lama di mana akhirnya dihancurkan. Nah, penghancuran sel-sel darah merah inilah yang bisa menyebabkan anemia.


Kebanyakan orang dengan sferositosis keturunan hanya mengalami anemia ringan. Akan tetapi, tekanan pada tubuh akibat infeksi dapat menyebabkan sakit kuning. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa menyebabkan penghentian sementara produksi sumsum tulang sel darah.


Klasifikasi Anemia

Klasifikasi Anemia dibagi menjadi 2 yaitu berdasarkan :

  • Morfologi

Normositik – normokromik

Makrositik – normokromik


Makrositik – hipokromik

Mikrositik – hipokromik


Untuk klasifikasi anemia berdasarkan morfologinya dibutuhkan perhitungan MCV, MCH dan MCHC.

Baca Juga :   Resistor Adalah

Penghitungan MCV

PCV (%) X 10

MCV =

Eritrosit (juta/mm3)

Penghitungan MCH

Hb (g/dl) X 10

MCH =

Eritrosit (juta/mm3)

Penghitungan MCHC

Hb (g/dl) X 100

MCHC =

PCV (%)


  • Etiologi

Berdasarkan etiologi anemia dibagi menjadi 4 kategori :


Anemia Perdarahan ( Blood Loss Anemia )

Anemia perdarahan terjadi keadaan Perdarahan Akut seperti trauma, operasi pembedahan, defek-defek koagulasi yang parah seperti perdarahan akut pada keracunan sweet clover dan warfarin. Perdarahan kronis biasanya mikrositik hipokromik (kekurangan elemen-elemen untuk pembentukan atau sintesis hemoglobin) dengan ciri-ciri yaitu mikrosit meningkat jumlahnya, penurunan kadar Hb, peningkatan jumlah retikulosit dan eritrosit berinti sehingga adanya peningkatan proses eritrogenesis. Penyebabnya yaitu infestasi parasit seperti cacing kait, cacing perut, coccidia, cacing bungkul dan cacing hati. Parasit eksternal yaitu kutu dan pinjal.


Perdarahan kronik (pada kasus cacingan) → karena lesi-lesi gastointestinal → menyebabkan gastritis, ulserasi traktus digestivus dan enteritis → Sehingga akan kehilangan darah secara kronis.


Pemeriksaan laboratorik untuk hemoragi akut dan subakut menciri yaitu terlihat gambaran normocytic, eritrosit berinti terlihta pada pemeriksaan darah perifer dalam waktu 72-96 jam. Pendarahan perakut pada rongga abdominal dan rongga dada. Sifat regenerasi perdarahan akut biasanya berjalan progresif dengan jumlah eritrosit kembali normal dalam waktu 4-5 minggu. Anemia ini termasuk Normositik – normokromik


Peningkatan Destruksi eritrosit atau penurunan lifespan eritrosit.

Berhubungan dengan proses destruksi besar-besaran atau pendeknya lifespan eritrosit oleh berbagai penyakit.


Anemia Hemolitik

Adalah keadaan dimana masa hidup eritrosit memendek. Anemia hemolitik termasuk dalam kelompok kelainan dimana didapatkan ketahanan atau umur eritrosit berkurang baik episodik maupun kontinyu. Sumsum tulang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi eritrosit sampai delapan kali lipat sebagai respon penurunan ketahanan eritrosit. Retikulositosis merupakan penanda adanya hemolisis karena pada kelainan hemolitik terjadi respon sumsum tulang berupa peningkatan produksi eritrosit.


Kelainan anemia hemolitik secara umum diklasifikasikan berdasarkan faktor intrinsik dan faktor eksternal. Defek faktor intrinsik terjadi dalam seluruh komponen eritrosit meliputi membran, sistem enzim, herediter dan hemoglobin. Sedangkan defek faktor eksternal merupakan anemia hemolitik imun. Termasuk dalam makrositik – normokromik


Anemia Pernisiosa

Anemia Pernisiosa atau disebut Anemia karena defisiensi Vitamin B12 adalah anemia sebagai akibat dari berkurangnya faktor intrinsik didalam lambung. Faktor intrinsik adalah suatu faktor yang diperlukan untuk penyerapan vitamin B 12 dalam usus. Setelah ditelan dilambung vitamin B12 terikat dengan faktor intrinsik yaitu protein yang disekresikan sel pariental lambung. Terdapat ikatan kobalamin protein yang lain.(disebut faktor –R) yang berkompetisi dengan faktor intrinsik sedangkan ikatan vitamin B12 dengan faktor – R tersebut tidak dapat diabsobsi. Komplek vitamin B12, faktor intrinsik bergerak melalui usus halus dan diabsobsi dalam ileum terminal oleh sel dengan reseptor spesifik pada komplek tersebut. Hasil absobsi dibawa melalui plasma dan disimpan di hepar. Vitamin B12 mempunyai peranan yang esensial untuk sintesa asam nukleus dan mempunyai hubungan erat gan metabolisme asam folat dan asam folanat uracil, thymidin dan asam askorbat.


Gejala yang dapat ditimbulkan yaitu terjadi perubahan pada sel mucosa, glositis, gangguan gastrointestinal seperti anoreksia dan daire. Ciri khas dari defisiensi vitamin B12 yaitu anemia megaloblastik. Pemeriksaan yang penting dan untuk menentukan dioagnostik anemia pernisiosa adalah pemeriksaan Schilling test yaitu untuk memastikan bahwa penderita tidak dapat mengabsorpsi vitamin B12 karena terdapat kekurangan faktor intrinsik.

Baca Juga :   Resistor Adalah

Anemia Karena Defisiensi Asam Folat

Gejala klinisnya sama seperti anemia karena defesiensi vitamin B 12 yaitu adanya anemia megaloblastik dan perubahan megaloblastik pada mukosa. Tetapi pada defesiensi asam folat tidak terdapat abnormalitas neurologis. Diagnosis banding yaitu Anemia megalobastik pada defisiensi asam folat dibedakan dengan yang terjadi pada defesiensi vitamin B12, dengan adanya kadar vitamin B12 serum yang normal dan penurunan kadar asam folat eritrosit atau serum.


Depresi Sumsum Tulang

Anemia Aplastik

Anemia aplastik adalah suatu keadaan dimana jaringan sumsum tulang digantikan oleh jaringan lemak. Sehingga terjadi pensitopenia (anemia, leukemia, dan tronositopenia). Gejala yang timbul yaitu suhu tubuh naik, pucat dan terjadi oedem. Pengurangan elemen lekopoisis menyebabkan granulositpenia yang akan menyebabkan penderita menjadi peka terhadap infeksi sehingga mengakibatkan infeksi baik bersifat lokal maupun sistemik. Trombositopenia dapat mengakibatkan pendarahan dikulit, selaput lendir ataupun pendarahan di organ-organ. Pada anemia aplastik tidak akan ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, dan tidak ada hepatosplenomegali.


Masa kesembuhan dari pendarahan besar yaitu pendarahan karena traumatik atau defek-defek koagulasi dan destruksi secara masif dengan immune mediated anaemia, infeksi hemoprotozoa, toksisitas obat dan anemia kongenital pada anjing. Termasuk anemia makrositik – hipokromik


Defesiensi nutrisi

Anemia Defesiensi Fe

Anemia defesiensi besi (Fe) adalah anemia yang sekunder terhadap kekurangan Fe yang tersedia untuk sintesa hemoglobin. Oleh karena Fe merupakan bagian dari molekul hemoglobin maka dengan berkurangnya Fe, sintesa hemoglobin berkurang dan kadar hemoglobin akan berkurang. Apabila cadangan Fe telah habis akan terlihat pengurangan Fe pada epitel seperti pada rambut, kuku, kulit dan selaput lendir gastrointestinal. Sebab terjadinya anemia defesiensi besi (Fe) adalah pendarahan khususnya pendarahan gastrointestinal. Gejala anemia defisiensi Fe yaitu pucat pada selaput lendir. Takikardia, palpitasi, dan disfagia.


Defisiensi besi (Fe) yang berat akan menimbulkan apusan darah tepi yang aneh (bizzare) dengan sel yang sangat hipokromik, sel target, sel berbentuk hipokromik, dan dalam jumlah sedikit ditemukan eritrosit berinti. Biasanya jumlah platelet normal pada defisiensi besi yang ringan tapi akan meningkat pada kasus yang lebih berat. Defek-defek dalam kebutuhan dan penyimpangan Fe seperti defisiensi Cu dan keracunan molybdenum dan defesiensi vitamin B6. Anemia ini termasuk dalam anemia mikrositik – hipokromik.


Anemia Pada Penyakit Kronis

Berhubungan dengan terjadinya anemia ringan atau sedang. Penyebab yang sering terjadi yaitu infeksi atau inflamasi kronis, kanker, gangguan autoimun dan infeksi-infeksi kronis yang biasanya timbul beberapa bulan setelah penyakit tersebut mulai menyerang.


Ketahanan eritrosit secara perlahan berkurang dan sumsum tulang gagal melakukan kompensasi melalui peningkatan produksi eritrosit. Kegagalan untuk meningkatkan eritrosit terutama disebabkan oleh pemecahan besi dalam sistem retikuloendotelial. Penurunan eritropotin jarang terjadi pada kasus penting dalam penurunan produksi eritrosit. Sebagian besar kasus tidak memerlukan terapi tetapi pada beberapa kasus transfusi eritrosit diperlukan untuk anemia yang simptomatik.


Akhir Kata

Demikianlah ulasan dari pengertian.co.id mengenai Pengertian Anemia, semoga bisa bermanfaat untuk anda.